JAKARTA, — Ketahanan sebuah negara tidak lagi hanya diukur dari kekuatan militer dan alutsista, melainkan dari derajat kesehatan masyarakatnya.
Guna mewujudkan visi Indonesia Emas, penguatan sektor kesehatan berbasis promosi dan pencegahan penyakit kini mendesak untuk ditempatkan sebagai bagian dari strategi pertahanan negara.
Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi Coffee Morning – Dialog Kebangsaan bertema “Rakyat Sehat, Negara Kuat” yang diselenggarakan oleh Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) bersama Rumah Sakit Pusat Rehabilitasi Kesehatan Kementerian Pertahanan (RS Pusrehab Kemhan RI) di Hotel Fairmont, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Ketua Umum FORMAS, Yohanes Handojo Budhisedjati, menegaskan bahwa pembangunan kesehatan nasional harus bertransformasi. Pendekatan tidak boleh lagi sekadar kuratif atau mengobati saat masyarakat sudah jatuh sakit, melainkan harus berfokus pada kemandirian dan pencegahan.”Negara yang kuat harus ditopang oleh rakyat yang sehat. Pembangunan kesehatan adalah tentang bagaimana kita membangun kesadaran, pencegahan, dan kemandirian kesehatan di tengah masyarakat,” ujar Yohanes di hadapan sekitar 100 peserta dari kalangan birokrat, akademisi, tenaga kesehatan, dan organisasi kemasyarakatan.Sinergi Lintas SektorDalam format Round Table Executive, dialog berjalan setara untuk membedah tantangan kesehatan masa depan. Sektor pertahanan memandang kualitas sumber daya manusia (SDM) yang prima sebagai aset krusial yang tidak bisa ditawar dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Perwakilan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Dr. dr. Markus Wibowo, Sp.OT., MARS, menyatakan bahwa aspek kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam memperkuat ketahanan nasional. Menurut dia, dinamika ancaman global saat ini kian kompleks, termasuk ancaman terhadap ketahanan kesehatan masyarakat.”Penguatan kesehatan merupakan bagian penting dari upaya membangun ketahanan bangsa. Karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan ke depan,” tutur Markus.
Optimalisasi Herbal LokalSalah satu poin penting yang disorot adalah pemanfaatan kekayaan alam hayati sebagai pilar kemandirian kesehatan. Ahli herbal dan pengkaji pengobatan tradisional, dr. Prapti Utami, M.Si, bersama Brigjen TNI Markus Wibowo memaparkan potensi besar pengembangan tanaman obat, herbal, dan jamu berbasis kajian ilmiah.Optimalisasi riset terhadap obat tradisional ini dipandang mampu menjadi pendekatan promotif dan preventif yang efektif sekaligus murah bagi masyarakat luas. Langkah ini sekaligus mengurangi ketergantungan pangan dan obat-obatan dari luar negeri.
Sebagai komitmen nyata pascadialog, FORMAS dan RS Pusrehab Kemhan RI menandatangani Letter of Intent (LoI).
Kerja sama ini menjadi payung hukum awal untuk menjajaki kolaborasi konkret di bidang layanan kesehatan formal maupun penguatan kesehatan berbasis komunitas.Melalui kemitraan ini, kedua lembaga berharap dialog tidak mandek sebagai wacana di atas meja diskusi.
Sebaliknya, kolaborasi antara masyarakat sipil, militer, dan akademisi ini diharapkan melahirkan kebijakan publik yang menempatkan kesehatan sebagai arus utama dalam strategi pembangunan nasional ke depan.
