Kunjungan Ketua PHRI Banten ke Kebun Organik Serang

Redaksi | News
oleh

( Pertanian Mandiri untuk Masa Depan Ketahanan Pangan )

Ketua PHRI Banten melakukan kunjungan santai dan penuh keakraban ke kawasan kebun dan persawahan organik di wilayah Cipocok Jaya, Sabtu (26/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan pertanian ramah lingkungan dan pemberdayaan petani lokal di tengah pesatnya pembangunan kawasan perkotaan di Kota Serang.

Di tengah berkembangnya pemukiman, perkantoran, dan pusat ekonomi di Kota Serang, ternyata masih terdapat hamparan sawah dan kebun yang tetap bertahan dan terus diolah secara produktif oleh masyarakat. Salah satu lokasi yang menarik perhatian berada di Kecamatan Cipocok Jaya.

Sekilas kawasan tersebut tampak seperti area pertanian biasa. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, terdapat upaya pengembangan pola pertanian terpadu semi organik menuju pertanian organik mandiri yang sedang dirintis oleh para petani setempat.

Dalam kunjungannya, Ketua PHRI Banten, Ashok Kumar, berdialog langsung dengan para petani yang tengah mengembangkan sistem pertanian terintegrasi secara bertahap. Program tersebut dimulai dari pembuatan kompos mandiri, MOL (Mikroorganisme Lokal), POC (Pupuk Organik Cair), pestisida nabati, herbisida alami, hingga pengolahan asam humat dan asam amino berbahan dasar alami.

Gerakan kemandirian petani ini baru dimulai sekitar empat bulan lalu, tepatnya sejak akhir Desember 2025. Kegiatan tersebut dipelopori oleh Misna dan Taufik di bawah pembinaan A. Yani & Moon Marko, seorang petani organik yang aktif mendorong pola tani berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Menurut para petani, langkah ini tidak hanya bertujuan meningkatkan hasil pertanian, tetapi juga menciptakan kebermanfaatan ekonomi dan kesejahteraan bagi petani penggarap beserta keluarganya.

Melalui pemanfaatan lahan tidur yang sebelumnya kurang subur, para petani mencoba menghadirkan inovasi dengan memanfaatkan limbah organik sebagai bahan utama pengolahan tanah. Kotoran sapi dan kambing difermentasi, kemudian dipadukan dengan sekam bakar, abu sekam, dan sekam mentah yang difermentasi untuk meningkatkan kualitas tanah.

Penggunaan asam humat sebagai perombak lahan, asam amino untuk membantu pertumbuhan akar, serta pupuk organik cair, perlahan mulai menunjukkan hasil positif terhadap produktivitas tanaman.

Dalam suasana santai sambil bercengkrama dengan ibu-ibu petani yang sedang menanam padi, Ashok Kumar menyampaikan harapannya agar lokasi tersebut dapat berkembang menjadi pusat edukasi pertanian dan wisata agro bagi masyarakat.

“Kawasan seperti ini sangat baik dijadikan tempat belajar pertanian mandiri dan berkelanjutan. Selain edukatif, juga dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk kembali mencintai dunia pertanian,” ujarnya.

Ia juga menilai generasi Gen Z perlu mulai mengenal dunia pertanian sejak dini. Menurutnya, profesi petani saat ini semakin langka, padahal memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan bangsa di masa depan.

Kegiatan kunjungan tersebut berlangsung hangat, sederhana, dan menjadi pengingat bahwa pertanian tetap memiliki masa depan yang menjanjikan ketika dikelola dengan inovasi, kebersamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

No More Posts Available.

No more pages to load.