Usulan Margono Pahlawan Nasional

Redaksi | News
oleh

“Kemandirian ekonomi adalah pondasi kemerdekaan. Margono Djojohadikusumo, dengan integritas dan keberanian, membuktikan bahwa membangun bangsa berdaulat

butuh aksi nyata. Usulannya sebagai Pahlawan Nasional adalah penghargaan atas warisan abadi: kemandirian, keteladanan, dan semangat maju.”

— Prof. Dr. Andriansyah, M.Si.

Dalam sejarah bangsa Indonesia, nama Raden Mas (RM) Margono Djojohadikusumo mungkin tidak sepopuler Soekarno atau Hatta. Namun, kontribusinya dalam membangun fondasi ekonomi Indonesia pasca-kemerdekaan tak bisa dipandang sebelah mata. Margono, sang pendiri Bank Negara Indonesia (BNI), adalah sosok visioner yang meletakkan batu pertama sistem perbankan modern di Indonesia1. Kini, di tengah usulan gelar Pahlawan Nasional untuknya, kita diajak untuk menelusuri kembali jejak langkah seorang priyayi dari Purwokerto yang menjadi pilar stabilitas ekonomi bangsa2.

Margono bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah simbol kemandirian ekonomi, seorang negarawan yang memahami bahwa kemerdekaan politik harus diiringi dengan kemandirian finansial3. Di tengah situasi genting pasca-Proklamasi 1945, ketika Indonesia masih berjuang mempertahankan kedaulatannya dari ancaman kolonialisme, Margono hadir dengan gagasan brilian: mendirikan bank sentral milik negara4. Hasilnya adalah BNI, yang hingga kini menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia5.

Namun, usulan gelar Pahlawan Nasional untuk Margono tidak lepas dari kritik dan kontroversi. Beberapa pihak mempertanyakan momentum pengusulan ini, yang bertepatan dengan cucunya, Prabowo Subianto, menjabat sebagai Presiden Indonesia 6. Apakah ini murni penghargaan atas jasa Margono, atau ada nuansa politis di baliknya?

Pertanyaan ini mengajak kita untuk merenungkan makna kepahlawanan dan proses seleksi yang melingkupinya7.

Kriteria Pahlawan Nasional dan Relevansi Margono Djojohadikusumo

Gelar Pahlawan Nasional bukan sekadar penghargaan simbolis. Ia adalah pengakuan tertinggi negara atas dedikasi seseorang dalam membela bangsa, melawan penjajahan, atau menghasilkan prestasi luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan negara8. Kriteria ini tidak hanya menuntut kontribusi yang nyata, tetapi juga warisan yang abadi, yang mampu menginspirasi generasi demi generasi9. Dalam konteks ini, Raden Mas (RM) Margono Djojohadikusumo layak disebut sebagai salah satu sosok yang memenuhi kriteria tersebut10.

Margono Djojohadikusumo adalah pendiri Bank Negara Indonesia (BNI), bank pertama milik negara yang menjadi pilar stabilitas ekonomi Indonesia pasca- kemerdekaan11. Ia tidak hanya berjuang melawan penjajahan secara ekonomi, tetapi juga meletakkan dasar bagi kemandirian finansial bangsa12. Di tengah situasi genting pasca-Proklamasi 1945, ketika Indonesia masih berjuang mempertahankan kedaulatannya dari ancaman kolonialisme, Margono hadir dengan gagasan brilian:13mendirikan bank sentral milik negara14.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada individu yang memenuhi tiga kriteria utama:

Pertama, Berjuang melawan penjajahan: Margono tidak mengangkat senjata, tetapi ia berjuang melawan penjajahan melalui jalur ekonomi. Ia menolak ketergantungan pada De Javasche Bank, bank sentral era kolonial, dan mendirikan BNI sebagai simbol kemandirian finansial15.

Kedua, Membela bangsa dan negara: Sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA), Margono aktif merumuskan kebijakan ekonomi yang mendukung kemerdekaan Indonesia¹⁵.

Ia juga terlibat dalam diplomasi internasional, termasuk Konferensi Meja Bundar (KMB), untuk memastikan kepentingan ekonomi bangsa terlindungi16.

Ketiga, Menghasilkan prestasi luar biasa: Pendirian BNI adalah prestasi monumental. Bank ini tidak hanya berfungsi sebagai bank sirkulasi, tetapi juga sebagai bank komersial yang memberikan kredit dan menerima simpanan17. Di bawah kepemimpinan Margono, BNI berhasil melewati masa-masa sulit, termasuk saat ibu kota dipindahkan ke Yogyakarta akibat Agresi Militer Belanda18.

Kritik dan Kontroversi

Usulan Margono Djojohadikusumo sebagai Pahlawan Nasional memang menuai pujian atas kontribusinya yang luar biasa bagi bangsa. Namun, di balik itu, muncul kritik dan kontroversi yang tidak bisa diabaikan19. Beberapa pihak mempertanyakan apakah usulan ini murni berdasarkan kontribusi Margono atau ada nuansa politis di baliknya, terutama mengingat cucunya, Prabowo Subianto, kini menjabat sebagai Presiden Indonesia20.

Salah satu kritik utama yang muncul adalah terkait dengan nuansa politis dalam proses pengusulan. Beberapa pihak mempertanyakan apakah momentum ini dipilih secara strategis untuk memperkuat citra keluarga Margono di panggung politik nasional21. Pertanyaan ini wajar, mengingat gelar Pahlawan Nasional sering kali menjadi alat legitimasi politik, terutama ketika terkait dengan tokoh-tokoh yang memiliki koneksi dengan kekuasaan22.

Refleksi atas Makna Kepahlawanan

Gelar Pahlawan Nasional bukan sekadar penghargaan simbolis. Ia adalah pengakuan tertinggi negara atas dedikasi seseorang dalam membela bangsa, melawan penjajahan, atau menghasilkan prestasi luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan negara23. Namun, di balik gelar ini, tersimpan makna yang lebih dalam: upaya untuk mengenang, menghormati, dan belajar dari sejarah24.

Dalam konteks usulan Margono Djojohadikusumo sebagai Pahlawan Nasional, refleksi ini menjadi penting untuk memahami mengapa sosoknya layak diangkat, dan bagaimana proses ini dapat menjadi momentum pembelajaran bagi generasi muda25.

Margono Djojohadikusumo dan Warisan yang Abadi

Usulan Margono Djojohadikusumo sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar penghargaan atas jasa-jasanya yang luar biasa. Ia adalah pengakuan atas mimpi dan perjuangan seorang visioner yang meletakkan dasar bagi kemandirian ekonomi Indonesia. Margono, sang pendiri Bank Negara Indonesia (BNI), adalah sosok yang berani memulai di tengah ketidakpastian, membangun fondasi perekonomian bangsa di masa-masa paling kritis pasca-kemerdekaan26.

Namun, gelar Pahlawan Nasional bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah awal dari sebuah refleksi: bagaimana kita, sebagai bangsa, menghormati dan belajar dari sejarah. Margono mengajarkan kita bahwa kemandirian ekonomi bukanlah hal yang mustahil, asalkan ada keberanian untuk memulai dan integritas dalam menjalankannya. Pemikirannya tentang good governance dan nasionalisme tetap relevan hingga kini, di tengah tantangan globalisasi dan ketidakpastian ekonomi dunia27.

Proses pengusulan Margono sebagai Pahlawan Nasional harus dilakukan secara transparan, objektif, dan bebas dari kepentingan politik. Ini adalah momentum untuk memperkuat partisipasi publik, melibatkan masyarakat dalam diskusi tentang makna kepahlawanan, dan memastikan bahwa gelar ini benar-benar mencerminkan penghargaan atas jasa-jasanya28.

Margono meninggalkan warisan besar melalui BNI, yang hingga kini menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia. Pemikirannya tentang kemandirian ekonomi dan good governance tetap relevan dalam konteks pembangunan nasional saat ini. Selain itu, Margono mewariskan semangat nasionalisme dan integritas kepada generasi penerusnya. Anaknya, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, menjadi ekonom terkemuka, sementara cucunya, Prabowo Subianto, kini memimpin bangsa ini29.***

Tentang penulis:

Prof. Dr. Andriansyah, M.Si.

Tim Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Riset Sejarah Biografi RM Margono Djojohadikoesoemo, Rektor Universitas Mathla’ul Anwar Banten.